Skip to main content

Pasarku Banjir Lagi

Banjir di Pasar
Ilustrasi: Pasar Banjir
Persediaan bawang di dapur sudah habis, tibalah saatnya aku melaksanakan tugas mulia ini: Membeli bawang. Uum (istri aku) memang tahu caraya memberi tugas. Ya sebagai suami yang baik dan benar juga tidak suka sombong, tugas membeli bawang akan
dilaksanakan. Karena tanpa bawang, apalah jadinya Haruan (ikan Gabus) Bakar yang akan jadi menu makan malam hari ni. Anda para hadirin, pasti akan tahu rasanya.

Akhirnya dengan ringan hati memasang kaos serta celana pendek berangkatlah ke pasar. Dulu, kami ke pasar minimal harus pakai motor. Tapi sekarang beberapa langkah dari rumah kami sudah sampai di pasar. A.H.A! Inilah alasan Uum tidak mau ke pasar. Pasar sedang Ba'ah alias Banjir. Tidak tinggi, cuma semata kaki. Beruntung tadi aku tidak pakai sarung warisan...

Karena hari ini hari selasa, setiap sore biasanya ada pasar tumpah menyambut hari pasar di Alabio (kampung kami) yamg jatuh setiap hari rabu. Tidak dinyana, disangka dan diduga, meski banjir pasar tumpah ini tetap buka. Tentu saja dengan lantai lapak yang sengaja diberi tambahan agar air yang kian tinggi tidak membasahi dagangan. Dan benar saja, meski air yang bau dan gatal itu membuat aktivitas jual beli terhambat, pembeli tetap banyak. Sebagaimana Hukum Pasar, Jika ada yang menjual, pasti ada yang membeli...

*** (maghrib, tulisan disambung nanti)

Comments

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...