Skip to main content

Nyawa Seratus

Ini adalah tulisan yang saya post di akun FB Hendra Madjid dan kemudian saya post juga diblog yang lain. Semoga menjadi inspirasi, bagi yang sudah baca, bisa dibantu untuk membagikan. Terima kasih

***
Nyawa Seratus
Oleh: Hendra Madjid
uang perak tahun 1973
Ilustrasi uang Rp 100,-

Beberapa waktu yang lalu saat berdiskusi dengan ustadz Abay, beliau bercerita tetang sebuah cerita yang menurut saya inspiratif. Walau sumber cerita asli (katanya nyata) tidak dapat saya temukan,saya yakin gubahan cerita ke dalam kondisi keindonesiaan bisa memberi pelajaran kepada kita semua.


Cerita berawal ketika seorang pemuda miskin yang berupaya mencari nafkah untuk dia dan keluarganya. Pagi itu dia berangkat untuk mengerjakan apapun yang bisa menghasilkan uang.

Dalam perjalanan, dia tanpa sengaja dia menemukan koin Rp 100,- (dalam cerita asli 10 sen). Saat ini koin seratus rupiah tak bernilai apa-apa. Bahkan tidak bisa untuk membeli sebiji permen (di tempat saya permen 3 buah = Rp 500,-). Selain karena memang itu koin yang sudah tidak laku lagi dan bentuknya sudah penyok sehingga betul-betul tidak bernilai.

Pemuda tadi lalu menuju bank untuk menukarkan koin. Dia berharap itulah rizki pertama yang bisa dia dapatkan hari itu, uang Rp 100,-. Namun ternyata pihak bank tidak mau menerima uang itu. Karena memang sudah tidak laku. Tapi teller bank tadi menyarankan agar menukarkan koin itu pada kolektor koin yang tempatnya tidak jauh dari bank.

Sekeluarnya pemuda dari bank, dia langsung menuju kolektor yang dimaksud. Saat dia bertanya apa koin itu bisa ditukar, kolektor dengan senyum sumringah mengangguk. "berapa?" tanya pemuda. "untuk koin 100 ini, sebenarnya saya sudah memiliki. Namun, jika anda mau, saya akan membelinya dengan harga Rp 5.000.000,-" jawab kolektor. Tanpa berpikir panjang, apalagi melakukan proses tawar-menawar pemuda tadi menyetujui harga tersebut.

Kini di kantong pemuda tadi sudah ada lima juta. Sembari berjalan, diapun teringat di rumahnya belum ada lemari untuk menyimpan pakaiannya dan keluarga. Dalam pemikiran sederhana pemuda ini, "saya akan belikan kayu untuk membuat lemari di rumah. Tapi harus dengan kayu terbaik. Karena inilah yang akan bisa dibanggakan". Kalau menurut saya, kenapa tidak dijadikan modal usaha saja?

Haha... tapi cerita ini tidak seperti yang saya harapkan. Pemuda tadi meneruskan niatnya untuk membeli kayu terbaik untuk dibuat lemari. Dan kontan, harga kayu itu adalah Rp 5.000.000,- (koq bisa ya? lanjutkan saja membaca ceritanya). Pemilik toko kayu bersedia meminjamkan gerobaknya agar pemuda bisa membawa kayu hingga ke rumahnya. Dan pulanglah dia.

Dalam perjalanan pulang dia melewati beberapa toko Meubel. Dan secara kebetulan, salah seorang pemilik toko Meubel menghentikan langkahnya. Dilihatnya kayu-kayu yang dibawa pemuda tadi. Sambil berdecak dia berkata "Bolehkah saya membeli kayu ini? Saya sangat memerlukannya untuk membuat Lemari dan Meubel lain". Pemuda tadi sebenarnya sedikit keheranan, tapi dia memberanikan diri untuk bertanya. "memang berapa bapak mau beli?" tanyanya. "Kayu ini lumayan bagus, saya beli Rp 10 juta. Bagaimana? Tapi saat ini saya tidak bisa membeli secara tunai. Anda bisa memilih beberapa Meubel saya, sehingga harganya Rp 10 juta. Bagaimana?"

Pemuda ini merasa sangat beruntung, karena dia tidak perlu lagi bersush payah membuat lemari. Mahal sekarang dia akan mendapatkan meubel lain seperti kursi, meja dan lain-lain. Akhirnya kesepakatanpun terjadi. Gerobak yang tadinya penuh kayu, sekarang sudah berat dengan beberapa meubel di atasnya. Tak jauh dia berjalan, sebuah mobil mewah memberi tanda agar dia berhenti.

"Pak, kami sedang mencari meubel. Tapi tak ada yang cocok dengan rumah kami. Saya melihat barang yang bapak bawa sesuai dengan model meubel yang kami inginkan. Boleh kami membelinya?" tanya Seorang yang baru keluar dari mobil. Kali ini pemuda itu semakin terkejut. Dia tersenyum tanpa berkata. "bagaimana jika saya beli Rp 25juta?". Si pemuda mengangguk. Dan uang tunai itu segera dia dapatkan stelah proses antar jemput selesai.

Malam telah tiba. Semakin pekat. Tapi hati sang pemuda begitu riang bahagia. Tak menyangka dia mendapatkan rizki sebanyak itu. Diapun mempercepat langkah agar segera bisa membagi kebahagiaan dengan istrinya.

Jika cerita berakhir sampai di sini, kita akan berkesimpulan bahwa pemuda ini begitu beruntung. Tapi, cerita ini belum habis kawan. Sebelum sampai ke rumah, pemuda ini dicegat oleh sekawanan preman yang setengah mabuk. Lalu preman-preman itu mengancam dan akhirnya merampok sang pemuda.Habislah sudah Rp 25 juta yang sempat menjadi asa untuknya dan keluarga.

Sesampainya di rumah pemuda tadi mencuci muka dan duduk bersama istrinya. "Di luar tadi ada apa kang? koq kayaknya ribut banget..." buka sang istri memulai pembicaraan. "Ah, itu preman-preman pasar yang biasa malakin warga. Dan hari ini kena giliran ayah yang kena palak" kata si suami. "memangnya mereka berhasil memalak berapa dari ayah?". Sembari tersenyum simpul, dia berkata "tidak banyak. Mereka hanya merampok Rp 100,-"

***
Beberapa orang di antara kita mungkin akan berpendapat, betapa ruginya pemuda ini? Kasihan dia.
Kawan, kalau kita menghitung secara materi, pemuda ini sungguh telah beruntung dan rugi sekaligus. Karena dari Rp 100,- menjadi Rp 5.000.000,- lalu berevolusi menjadi Rp 10juta dan 25 juta, lalu dia dirampok. Kalau seandainya pemuda itu melawan dan berduel dengan para preman tadi mungkin hasilnya akan berbeda. Tentu tidak salah kita menghitung-hitung dari sisi ini. Tapi tahukah sebenarnya kita. Bahwa sang pemuda itu benar-benar telah beruntung seberuntung-beruntungnya. Karena dia telah menyelamatkan hartanya yang paling berharga: NYAWA.

Comments

Popular posts from this blog

Frenchise Ritel, Biang Keladi Krisis Listrik KalselTeng?

Krisis Listrik Kalsel Saya sebenarnya penasaran, apakah memang kebutuhan listrik di Kalimantan Selatan dan Tengah ini sedemikian kritisnya sampai-sampai harus terus ada pemadaman listrik secara terus menerus. Walau kabar baiknya, dalam beberapa hari terakhir kondisi pemadaman ini berangsur 'membaik' . Membaik dalam arti, tidak sampai lagi dalam sehari terjadi tiga sampai empat kali pemadaman. baca juga: Maaf, Hari ini Listrik Padam Kabarnya memang, jatah energi listrik untuk area Kalsel sendiri hanya 3% dari total kemampuan PLN untuk memberi supply ke seluruh Indonesia. Kalau keliru, tolong diluruskan. Jika memang jatah salah satu lumbung energi ini hanya 3 persen kita patut iri dengan Jawa Timur. Karena Jawa Timur kabarnya mengalami surplus sampai 2.000 MW (sumber: finance.detik.com). Salah satu Gerai Alfamart Iseng-iseng sedikit, saat saya bertanya kepada salah satu karyawan Alfamart di samping kantor kami. Ternyata kebutuhan pembayaran rekening listrik Alf...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...