Skip to main content

Bawa Aku Padamu, Cinta...

Bawa Aku Padamu
Puisi: Bawa Aku padamu, Cinta
Diujung jalan itu kau bersembunyi
Tiap kukejar kau lari
kukejar lagi
lari lagi

Sampai kaki ini mulai lelah berlari
kaupun terdiam dengan senyum berseri
Senyummu itu melempar arti
Ayo! Kejar Aku lagi

Tapi, keringatku yang mengailr kali
Ingin katakan: Aku tak sanggup lagi

Jauh di lubuk hati
Aku menguatkan diri
Dengan tertatih melangkah kaki
Tiada disangka tertusuk duri

Kau terus lari
Sampai kutemui sosok serupa bidadari
Tidak! Itu bukan kamu yang aku cari

Ke mana kau bersembunyi?
Haruskah aku mengayuh sendiri
bahtera ini?

Sekali waktu, kau datang padaku
Wahai pengganggu, 
akan tibalah saatmu

Kau hanya perlu waktu
Karena Sekarang bukanlah saatku
Jadi. Maukah kau menunggu?

Kau boleh berlari mengejarku
Tapi, aku hanya akan berhenti saat itu
Saat di mana kau telah siap menerimaku

Aku bukan siapa-siapa
Aku hanya cinta

Owh! Aku tahu
Kapankah waktu itu?

Kau tidak perlu jatuh karena mengejarku
Karena untuk bersamaku
Kau hanya perlu membangun sabarmu
Tambah syukurmu
Bila telah cukup siapmu
Aku akan membawamu
menikmati malam yang syahdu
Meminum susu bercampur madu
Jika memang begitu maumu
aku akan bersiap bersama waktu
Menunggangi syukur dan sabarku

Dan jika memang sudah waktuku
Bawa Aku Padamu, Cintaku
  
***

Dengan penuh rindu, Hendra Madjid
Aku akan selalu membersamaimu
Jika tiba masaku. Allah akan menjempuku

Comments

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...