Skip to main content

Ternyata, Hari ini April Mop

Fools Day
April MOP/ April Fools Day
Saya sebenarnya lupa, atau lebih tepatnya tidak peduli. Tanggal 1 ini ternyata adalah April Mop. Baru sadarnya, saat tadi siang melihat status kawan saya Fanlia soal dibohongi dan membohongi diri sendiri. Statusnya begini:
tiap hari berarti kena april mop... biar aja sudah dimaafkan ja akhirnya tebunguli diri sendiri.. tetap fokus.. tetap amanah... jauhkan hati dan diri dari kemunafikan...
Samar-samar pula setelah itu saat membuka grup diskusi di whatsapp, terbaca sekilas tentang tema yang sama: April Mop. Saya tidak bisa mengingat kalimatnya dan entah dari grup yang mana, karena kondisi mata mengantuk berat sehabis memakan sup Iga buatan Dewi di Kantor.

Seingat saya, sekitar dua tahun yang lalu saya masih bisa tahu. Bahwa setiap tanggal 1 April, ada kebiasaan bodoh membohongi orang. Yang dibohongi merasa geli karena tahu itu April Mop. Yang membohongi merasa tidak berdosa meskipun sudah menipu dan membuat orang lain kesal. Seolah ini adalah kebiasaan yang coba terus didengungkan dan menjadi adat masyarakat Indonesia -yang katanya ketimuran ini- meski tidak menjadi pesta seperti di dunia barat. 

Mungkin karena kalah populer dengan perayaan "hari Cinta" pada 14 Februari,  saya jadi tidak terlalu peduli. 

Sedikit flashback ke belakang lagi. Dulu saat masih SMA saya disuguhkan artikel soal April Mop ini. Dan membuat sadar, bahwa April Mop adalah budaya yang jauh dari nilai-nilai agama. Bahkan lebih bernilai perayaan atas pembantaian kaum muslim di Spanyol. Walau sekali lagi, saya waktu itu memang tidak tahu menahu dengan perayaan April Mop. Karena rerata teman sepergaulan di SMA 6 Banjarmasin dulu tidak ada dan tidak heboh soal bohong membohongi. Disamping saya memang orang kampung yang kuper dengar tren 1 April ini.

Di situs Eramuslim disebut bahwa:
Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.
Lebih lengkap tentang ceritanya, silakan baca artikelnya di sini.

Sejatinya sebagai seorang muslim, kita harus sadar. Bahwa kebohongan, sekecil apapun tidak diperkenankan dan pasti akan memberatkan amal buruk kita di akhirat. Kecuali pada kebohongan yang memang diperbolehkan, seperti: Bohong untuk mendamaikan dua orang yang bertikai; Bohong suami untuk menyenangkan istrinya; dan Manipulasi kelik sandi dalam peperangan. Seharusnya, mereka yang berbohong walau hanya di hari ini (1 April) tetap harus menyadari itu. Sementara yang dibohongi harus memperingatkan teman/ saudara/ anak dan siapaun yang membohongi.

Maka, menurut saya. Sebaiknya tidak perlulah kita feel free saat mengikuti kebiasaan April Mop ini. Karena kalau kita ikuti, sama saja kita telah merelakan diri untuk mengikuti suatu kaum.

Dari Umar, Nabi Shallalhu 'alayhi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)
 Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dan saya yang banyak lupa ini hanya mau bilang: "Owh... Ternyata Hari ini April Mop toh. Karena saya muslim, saya tidak ikut merayakannya". Biarkan saya lupa dan tidak peduli dengan kebiasaan itu. Sehingga bohong tidak jadi budaya. Walaupun, saya tidak ingin lupa kalau Spanyol pernah jadi bagian dari negeri kaum muslim. Kalau kejadian satu April itu tidak pernah ada, mungkin Andreas Iniesta sekarang adalah seorang muslim. Atau entahlah. Masih mengantuk ini. Udah segitu aja.

Comments

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...