Skip to main content

Medsos, Dari Obrolan Menuju Perubahan

Akhir-akhir ini sering saya amati, beberapa isu sederhana sampai sensitif (semisal politik) sering bergulir dimulai dari media sosial. Khusus di kalsel, wabilkhusus Banjarmasin-Banjarbaru penggunaan Facebook seolah sudah menggantikan obrolan di warung kopi. Tidak hanya isu, event juga menemukan gairahnya saat ide awalnya diblow-up melalui like, komen dan share.

Apatah lagi, mereka yang memulai obrolan itu berjenis buzzer dan influencer. Yang kalau mereka update status singkat saja, puluhan hingga ratusan komen berhamburan.

Selain bernada santai, positif dan proaktif, tidak jarang kita temui status yang sangat provokatif, negatif bahkan nyinyir yang terlalu.

Walau ada juga, yang menggunakannya sebagai ladang untuk meraih popularitas dengan menyebar isu kontroversi bahkan kebencian terhadap SARA.
Dari status Facebook saya

Comments

Popular posts from this blog

Frenchise Ritel, Biang Keladi Krisis Listrik KalselTeng?

Krisis Listrik Kalsel Saya sebenarnya penasaran, apakah memang kebutuhan listrik di Kalimantan Selatan dan Tengah ini sedemikian kritisnya sampai-sampai harus terus ada pemadaman listrik secara terus menerus. Walau kabar baiknya, dalam beberapa hari terakhir kondisi pemadaman ini berangsur 'membaik' . Membaik dalam arti, tidak sampai lagi dalam sehari terjadi tiga sampai empat kali pemadaman. baca juga: Maaf, Hari ini Listrik Padam Kabarnya memang, jatah energi listrik untuk area Kalsel sendiri hanya 3% dari total kemampuan PLN untuk memberi supply ke seluruh Indonesia. Kalau keliru, tolong diluruskan. Jika memang jatah salah satu lumbung energi ini hanya 3 persen kita patut iri dengan Jawa Timur. Karena Jawa Timur kabarnya mengalami surplus sampai 2.000 MW (sumber: finance.detik.com). Salah satu Gerai Alfamart Iseng-iseng sedikit, saat saya bertanya kepada salah satu karyawan Alfamart di samping kantor kami. Ternyata kebutuhan pembayaran rekening listrik Alf...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...