Skip to main content

Misteri Poster Pahlawan

Poster Pahlawan Reaksi Aksi Damai 212
salah satu poster yang terpampang di jalan-jalan
Sejak di Amuntai, sekitar tanggal 27 November saat jalan-jalan bersama anak-anak dan istri melihat banner sejenis ini yang tersebar di banyak titik kota. Bahkan hingga ke Alabio.

Awalnya, saya mengira ini hanya semacam poster untuk mengingatkan warga Kalimantan Selatan bahwa mereka juga memiliki pahlawan. Yang anehnya memang, banner-banner ini tidak dipasang bertepatan dengan momentum hari pahlawan. Telat mungkin ya... Aku pikir.

Saat kembali ke Banjarbaru, di jalan sudah tersebar sepanjang titik-titik strategis mulai dari Pantai Hambawang, Kandangan, Rantau, Binuang, Martapura. Sampai pada satu ketika bersama seorang kawan berangkat ke Banjarmasin, makin banyak bertemu poster ini. Dan foto yang dipasang bukan hanya Hasan Basri, Idham Chalid dan Pangeran Antasari, namun hampir semua pahlawan Nasional.

Tidak jelas siapa yang memasang. Dana dari mana. Dan ada agenda apa sebenarnya. Karena tidak tertera siapa di balik banner ini. Sebab memang anonim. Tanpa nama.

Sempat berujar dengan teman soal berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk mencetak, merangkai sampai memasangnya.

Untuk cetak saja, dengan ukuran 1x1,5 meter, per pcs spanduk saja biayanya sekitar 30rb (dengan anggaran 20rb permeter). Dikalikan kira-kira 200 banner, sekiranya 6 juta rupiah harus dikeluarkan. Ditambah kayu bingkai dan upah pasang, bisa saja dana yang diperlukan berkisar 12-15 juta.

Okelah. Dari kisaran dana seperti itu, anonim yang saya perkirakan adalah seorang individu, bukan ormas atau lembaga pemerintahan. Bukan partai atau tokoh politik. Karena kita tahu lah, kalau partai atau tokoh politik pasti ada logo partai ataupun foto tokoh itu yang disandingkan ke dalam poster.

Teman saya mengira. Mungkin ini pekerjaannya tentara. Walau pada akhirnya, saat mengamati wall Facebook teman yang bekerja di pemerintah kota Banjarbaru, ada agenda upacara Akbar soal Bhineka Tunggal Ika. Dan tidak hanya di Banjarbaru, beberapa kota juga begitu. Dengan melibatkan polisi, anak-anak sekolah dan santri. Eh, selain upacara ternyata ada dangdutan juga.

Sebagian rasa penasaran dan perkiraan saya sepertinya mulai terjawab. Seolah memang ini adalah respon atas kondisi perpolitikan yang muncul dalam dua bulan belakangan ini. Soal pejabat tingkat provinsi yang -oleh media disebut" menjadi terduga penista Agama. Kampanye soal persatuan, Bhineka Tunggal Ika dan sejenisnya memang menghiasi banyak media baik elektronik, maupun media sosial.

Saya sendiri tidak terlalu sepakat dengan kalimat di poster itu. Bahwa para pahlawan ini "Gugur, Berjuang untuk Indonesia". Karena pada faktanya, ada beberapa foto pahlawan yang justeru berjuang sebelum lahirnya nama Indonesia. Kalian tahu sendiri lah jika membaca sejarah Pangeran Antasari atau Panglima Dipenogoro misalnya. Apalagi, ada juga foto Kartini. Alahmak! Koq bisa?

Di luar daripada itu, saya menilai. Bahwa siapapun yang membuat dan memasang poster dan menyelenggarakan acara itu bermaksud meredam gejolak politik yang bisa saja meledak saat atau pasca aksi 212 bela Islam jilid III.

Satu hal saja yang membuat analisa saya sedikit mengabur. Seorang kawan saya tanyakan usai rapat di Banjarmasin perihal ini. Dia bilang banyak orang yang disuruh pakai ikat kepala merah putih, karena untuk memperingati tragedi G30SPKI.

Sekilas masuk akal. Namun dalam perjalanan saya kembali berpikir. Lho... Bukannya tragedi yang menewaskan dewan Jendral itu terjadi di bulan September?

Argh! Sepertinya saya kurang duit. Eh kurang Akua. Itu maksud saya.

HendraMadjid.com

Comments

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...