Skip to main content

Suami Istri itu mirip? Inikah Rahasia Jodoh?

Saat bersaelancar di facebook dan bertemu dengan profil teman yang foto profilnya bersama istri dan anak-anaknya membuat aku kembali teringat dengan pasangan teman-teman yang lain. Secara garis wajah ternyata mirip. Baik bentuk hidung, dagu ataupun sorot mata. Ini kebetulan atau memang begitulah rahasia jodoh. 
Kemiripan antara dua pasangan
Ilustrasi: Pasangan Mirip

Barangkali, pengamatan acakku terhadap beberapa kawan (bahkan nasabah yang datang ke kantor) yang telah berkeluarga ternyata ada kemiripan.
Minimal postur dan bentuk wajah, itu yang bisa dilihat. Secara karakter aku tidak tahu. Dan ini tidak sekali aku temukan. Kebetulan jika sekali, namun jika terus-terusan menemukan fakta ini boleh jadi ini semacam bukti ilmiah kalau bentuk wajah menentukan jodoh. Meski jodoh sendiri adalah rahasia Tuhan. Tentu hanya Tuhan yang mengetahui setiap detil kenapa seseorang berjodoh. 

Istriku pernah diledekin oleh keluarga, soal kepandaiannya mencari suami yang mirip dengan ayahnya. Ya, betul. Aku mirip Ayah mertua. Dan setelah melakaukan pengamatan beberapa sisi, aku ternyata mirip dengan istri secara wajah. Meski dari sisi detail, ada saja bagian tertentu yang jauh sekali perbedaanya. Namun, jika melihat sekilas pasti kamu akan berkesimpulan kami mirip.

Comments

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...