Skip to main content

2 hari Absen nge-blog, rasanya GATAL

Apa rasanya kalau lagi program pembiasaan tiba2 di interupsi di tengah jalan? Terpaksa harus mulai lagi awal. Namun karena niatnya bukan terletak pada 100 hari pembuatannya, tapi pada kebiasaanya, memulai dari awal pun ternyata tidak masalah.
Blogging is Everything
Ceritanya lagi Blogging

Sabtu dan Ahad ini, memang tidak ada posting sama sekali di blog ini. Satu-satunya tulisan yg saya buat cuma status singkat di Facebook. Karena selama dua hari itu sedang fokus memulai projek jadi orang tua betulan. Bukan orang tua kebetulan. Dalam acara workshop Parenting menjadi orang tua shalih.

Insya Allah, belajar dua hari full bareng abah Ichsan kemaren akan saya share besok. Mudah-mudahan ya...

Kenapa saya berjanji? Tahadduts BI an ni'mah. Dalam dua hari tak buka laptop dan jaringan internet seperti biasa, pengunjung hendramadjid.com tetap ada. Alhamdullah... Makasih ya yang sudah ringan hati melangkahkan kaki ke blog ini.

Sebenarnya ada satu tema besar lagi yang mau diangkat. Soal haul Guru Sekumpul tadi malam. Tapi, sepertinya kebagian jatah hari Rabu atau Kamis ini. Insya Allah.

Yang jelas, 2  hari tidak nge-blog rasanya gatal pemirsah! Ada banyak sekali yang ingin saya kerjakan dan tuliskan.

Comments

  1. Sama dah kek gw , sehari aja kga ngeblog itu susah

    -RyousukeJS

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...