Skip to main content

Maaf, Kamu Aku Delkon!

BBM Logo Hendramadjid
BBM
Sudah lama ingin menghapus BBM dari smartphone. Tapi karena banyak pertimbangan, akhirnya diputuskan untuk mengakhiri enggagement di akhir tahun 2016. Ada banyak sekali pertimbangan, termasuk mungkin yang berikut ini.

Hari ini, kalau tidak salah kemarin. Akun BBM saya di di invite oleh akun tidak dikenal. Biasanya, ini teman lama atau calon nasabah. Tapi ini benar-benar tidak dikenal. Aneh. Tapi biarlah dulu sampai dilihat apa yang ingin dia tunjukkan.

Tepat sore tadi, sekitar jam 3-an akun tersebut mengirim pesan siaran (broadcast, BC). Akhir-akhir ini broadcast saya balas dengan link ke blog www.hendramadjid.com. Isinya, dia ingin agar saya menolongnya. Belum ada jawaban saya, eh dia malah broadcast lagi. Minta broadcast-in pin dia, dengan iming-iming diberi nomer handhone.

Akun ini memasang foto perempuan dengan lipstik menyala. Mungkin itu milik dia. Tidak lama berselang, dia kirim BC berisi ucapan terima kasih sudah dibroadcast. Hah? Saya paling anti sebenarnya promosi pin dengan BC. Apalagi dari orang yang sama sekali tidak dikenal. Aneh ini orang.

Usai pesan tadi, akun BBM-ku dibombardir broadcast dari akun yang sama. Saya baca broadcast-broadcastnya. Display picture-nyapun berubah-rubah. Sampai ada foto yang agak vulgar yang menampilkan (maaf) buah dadanya. Hadooh. Ini rezeki atau apaan ya namanya? Sebagai laki-laki normal, saya merasa mual dan mengernyitkan dahi. Memangnya harus sampai segitu ya biar orang tertarik?

Bombardir  terus berlanjut. Beberapa kali saya end chat. Tapi muncul lagi dan muncul lagi. Isinya, di luar dugaan. Minta pulsa. Dengan imbalan foto-foto, video, pesan seks, phone seks dan yang sejenisnya. Imbalannya berlipat sesuai dengan jumlah pulsa yang dikirim.

Chat BBM yang mengganggu
Capture Chat BBM

Kayaknya tidak ada yang mengirimkan dia pulsa. Sampai dia bombardir lagi kontaknya dengan BC. Barangkali sudah lebih dari 20, saya tidak menghitung. Dia bilang pelit, bilang tidak mau balas BM kalau tidak dikirim pulsa dan lain sebagainya. Sembari memohon-mohon untuk dikirimkan pulsa. Apa generasi mama minta pulsa sudah bergeser jadi begini ya? Minta pulsa dengan imbalan pornografi.

Menurut saya ini aneh. Karena untuk apa mengirimkan foto b*g*l, Video dan sejenisnya hanya untuk dapat pulsa? Apa potensi dapat pulsanya besar dan bisa diuangkan ya? Ada yang tahu? Mohon pencerahan.

Mana ada sih, ada wanita yang mau begitu? Mungkin pelaku bukan wanita. Mungkin pula memang benar dia orangnya. Entahlah! Karena kabarnya akhir-akhir ini ada yang sengaja mengumpulkan konten pornografi untuk meraup rupiah dengan menawarkannya kepada para lelaki yang "khilaf". Mungkin kejadian ini tidak hanya ada di BBM, tapi juga di aplikasi lain yang memungkinkan kita di kontak oleh orang-orang tidak dikenal.

Makin mual saya, setelah terakhir dia pasang foto yang... ah sudahlah... dua foto terakhir sudah cukup untuk saya menghapusnya dari pertemanan. Seperti yang juga disarankan Irfan yang ada di samping lagi browsing. Maaf ya, tidak ada pulsa buat kamu. Kamu aku Delkon!

Pernah mengalami hal serupa?

Ceritain di sini donk.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...