Skip to main content

Duhai Gadisku

Saat tangismu memecah subuh
Tak ada lagi duka apalagi kantuk di mata
Kamu senyum tapi belum melihat betul siapa diriku
 
Duhai gadisku

Perlahan kau tumbuh
Dalam buai dan pelukan
Aku memandimu basah
Tabur badan aroma pandan

Duhai gadisku

Saat kau hanya seorang
Kau kayaknya bintang terang
Selalu jadi perhatian
Saat bintang lain muncul
Lalu menampakkan sinarnya
Kau nampak tidak senang
Cemburu, tapi sayang

Duhai gadisku

Saat kau rindu menggebu
Mimpi malam membangunkannya
Memanggil aku
Namun, saat kuajak bicara melalui udara
Kau diam malu
Seandai bicara, "abah... datanglah padamu

Duhai gadisku

Aku pun rindu padamu
Membersamaimu, menyaksi tumbuh kembangmu
Bersabar menahan ledakan emosimu
Dan bertegas pada laku ganjilmu

Duhai gadisku

Jika waktu semalam tak pernah cukup dalam seminggu
Izinkan ayahmu membalut sedemikian doa
Agar malam dan mainmu bersamaku

Duhai gadisku
Ku mencintaimu

Duhai Gadisku


*Untuk gadisku, puteriku sayang

kau selalu dihati
selalu dipikirku
sepanjang hidupku

kau buat ku tersenyum
buat ku terharu
Bidadari kecilku
(Edcoustic, Event in my Dream)

Simak pusi lainnya: 
  1.  Bawa Aku Padamu, Cinta 
  2. Tidurlah wahai diri
  3.  Tiada yang salah
  4. Aku Ingin Ayah

Comments

  1. Bepuisi banar pian nah...he..he...

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. boleh. Tapi dengan syarat jangan lupa cantumkan sumber/ Linknya gan bila di publish ke sosmed atau ke blog atau media apapun yang agan publishkan

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Project: Kontribusi Melawan Asap

"Sumatera dan Kalimantan diselimuti kabut asap tebal"  Berita dengan judul sejenis ini dalam sebulan terakhir betul-betul menghiasi media cetak, televisi dan media online. Bukan sekadar menghiasi nampaknya. Tajuk ini adalah isu penting yang mengalahkan pentingnya berita keterpurukan nilai tukar rupiah. Mungkin nilai tukar rupiah turunnya hanya dirasa oleh sebagian kecil masyarakat yang bertransaksi menggunakan dolar. Karena sebagian besar masyarakat masih bisa memenuhi kebutuhannya meski dengan pengetatan pengeluaran yang demikian ketat. Namun kabut asap ini benar-benar dirasakan dampak negatifnya hampir seluruh masyarakat Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan, terlebih dua negeri jiran kita -Malaysia dan Singapura-. Setiap pagi di kontak BBM kami, hampir selalu saja muncul keluhan soal asap. Dan dari sekian banyak keluhan tersebut, sangat sedikit sekali (kalau tidak mau dibilang tidak ada) yang mencoba menawarkan solusi. Bahkan sekarang di media sosial ...

Menyolatkan pendukung "nganu"

Setahu saya, Rosulullah tidak ikut menyolatkan Abdullah bin Ubay bin Salul yang merupakan dedengkot kaum Munafik. Namun beliau juga tidak melarang para sahabat yang menyolatkannya karena ketidaktahuan mereka atas status munafik Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketidaktahuan akan status seseorang sebagai munafik pun adalah perkara yang wajar. Walaupun ada seorang sahabat nabi bernama Huzaifah bin Al Yaman yang memiliki ilmu rahasia untuk mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Sehingga Umar bin Khathab bisa yakin seseorang itu munafik atau tidak dengan mengikuti Huzaifah. Memang ada ciri-ciri seorang itu bisa disebut sebagai munafik di dalam nash. Namun apakah kita bisa yakin, misalnya ketika dia berjanji untuk datang pada jam 8 namun datang jam 9, sebagai orang munafik misalnya? Atau dalam tataran yang lebih berat. Tiga ciri² yang telah sama kita ketahui tersebut harusnya menjadi semacam self correcrtion. Muhasabah kepada diri sendiri, apakah diri kita termasuk munafik atau tidak....

Bisnis Tanpa Modal, Bisa?

Saat hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin 'auf meninggalkan hartanya di Mekkah. Sehingga, untuk memulai bisnis di Madinah dia harus dari nol lagi. Salah seorang sahabat kaum Anshar lalu menawarinya sebidang tanah dan seorang istri (untuk diceraikan lalu dinikahi Abdurrahman) tapi dia menolaknya dengan halus. Sembari berazam akan meminang seorang gadis Madinah dengan emas seberat kurma. Ringkas cerita. Saat itu Abdurrahman memulai Bisnis dengan datang ke pasar. Dia cari orang jualan unta untuk kemudian dijual kembali. Pada awalnya, hanya membantu menjual unta untuk mendapatkan fee penjualan. Hingga terkumpul uang untuk membeli seekor unta lalu dia jual sendiri. Menariknya, saat sudah mampu menjual sendiri unta. Abdurrahman malah menjual unta tersebut dengan harga modal. Tentu saja laris manis. Karena orang-orang yang sudah tahu harga pasaran unta pasti akan memilih membeli kepada Abdurrahman bin Auf. Lha... Kalau jual dengan harga modal, di mana untungnya? Kerja bakti kan gitu...